Sekilas Tentang CAPM dan Cara Perhitungannya

Apa itu CAPM

CAPM (Capital Asset Pricing Model) adalah model yang digunakan untuk menentukan tingkat pengembalian(required return) dari suatu aset. Model ini mendapatkan penghargaan nobel  pada tahun 1990 dan pada prakteknya juga sering digunakan untuk menentukan nilai cost of equity.

Dari sudut pandang investor, besarnya tingkat pengembalian seharusnya berbanding lurus dengan risiko yang diambil. Untuk memudahkan saya buat ilustrasi yang disederhanakan sebagai berikut:

Alex punya uang 100juta, berkeinginan untuk menginvestasikan uangnya pada bisnis warung retail. Pertanyaan yang seringkali dihadapi adalah: Jika Alex memutuskan untuk berinvestasi pada bisnis warung retail, berapa besar tingkat pengembalian yang harus dia dapatkan? Mengingat bahwa jika dia menginvestasikan uangnya, dia dihadapkan dengan risiko bisnis warung retail.

Pertimbangan untuk Alex Deposito Investasi Toko/Warung Retail
Risiko Minim, relatif nggak ada bagi Alex Bisa bangkrut atau perkembangan bisnis tidak sesuai harapan
Tingkat pengembalian 5% per tahun Berapa yak???

Pada kasus ini, ekspektasi tingkat pengembaliannya harus diatas return deposito karena ada risiko gagal bisnis dan uangnya hangus.

 

Dalam ilustrasi ini sebenarnya sah – sah saja kalau Alex langsung nembak angka misalnya: “Gue pengen return 30% per tahun.” Tapi itu angka dari mana? apakah wajar kalau ada investor di bisnis retail minta angka segitu?

Artinya, kita juga berurusan dengan masalah subjektivitas investor mengenai ekspektasi tingkat pengembalian terhadap risiko yang dia hadapi. Boleh jadi kalau ada investor lain dia hanya minta return 20%. Dari sudut pandang pemilik usaha, kalau ada investor lain yang berkeinginan masuk dengan nilai investasi yang sama pasti kita pilih yang permintaan imbal baliknya lebih kecil kan? Nah kalo begitu berapa angka yang sebenarnya bisa kita bilang wajar?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita bisa menggunakan model CAPM, dimana dalam model ini diperhitungkan juga masalah risiko yang dihadapi oleh investor.

Rumus CAPM

Ekspekstasi Return = Cost of Equity = Rf + β*(Rm – Rf)

dimana

Rf = Risk free rate (investasi tanpa risiko)

β (beta) =  Nondiversifiable risk, (risiko sistemik yang tidak bisa dihilangkan melalui diversifikasi oleh investor seperti, kondisi ekonomi, faktor politik, dll)

Rm = Market Return (seringkali kalau di Indonesia, kita gunakan return IHSG/Indeks Harga Saham Gabungan)

Dalam postingan kali ini fokus saya adalah untuk

  1. Membahas tata cara perhitungan dasar CAPM
  2. Sumber data yang digunakan dan cara pengolahan data untuk variabel yang digunakan dalam perhitungan CAPM, yaitu Rf (risk free rate), β (beta), dan Rm (return market).

Sebetulnya, ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan ketika kita memilih input dari 3 variabel diatas, tapi untuk sampai ke sana perlu penjelasan yang tidak sedikit. Jadi, pertanyaan – pertanyaan kenapa begini kenapa begitunya akan dibahas di postingan lain atau akan di-update lagi pada kesempatan yang lain.

Contoh Soal perhitungan CAPM

Berapa Cost of Equity PT XL Axiata saat ini?

Nah, berbeda dengan PT Telkom yang hobi bagi-bagi deviden tiap tahun, PT XL Axiata ini di tahun 2015 s/d 2016 nggak bagi – bagi dividen, Jadi buat temen-temen yang mau ngitung cost of equity dengan menggunakan data dividen udah pasti akan mengalami kesulitan. Jadi untuk mendapatkan cost of equity dari PT XL Axiata ini kita bisa gunakan metode CAPM.

Jawaban Sederhana

Cost of Equity = Rf + β*(Rm – Rf)

Untuk menggunakan CAPM, kita perlu 3 variabel, yaitu Risk Free, Beta dan Market Return.

Risk-free Rate

Untuk risk free rate, saya pakai BI 7 day repo rate. Kenapa?

Disini kita mengasumsikan bahwa Sertifikat Bank Indonesia sebagai investasi tanpa risiko bagi investor/marginal investor (meskipun aslinya nggak begitu). Lebih detail tentang BI 7 day rate ini dijelaskan oleh oom Teguh Hidayat di blognya di http://www.teguhhidayat.com/2016/04/mengenal-bi-7-day-rate-dan-dampaknya.html yang saya kutip sebagai berikut:

Sementara bagi BI sendiri, BI Rate adalah suku bunga bagi Sertifikat Bank Indonesia (SBI) untuk jangka waktu satu tahun, yang disalurkan ke bank-bank. Ketika BI rate naik ke 6.75%, maka para bank bisa menaruh dana mereka di BI dalam bentuk SBI, dan akan menerima bunga 6.75% per tahun. Jadi kalau Bank Mandiri menaruh duit tabungan nasabahnya sebesar Rp10 trilyun di BI, maka setelah satu tahun, mereka akan memperoleh Rp675 milyar tanpa perlu ‘ngapa-ngapain’ sama sekali

Nah, data BI 7 day rate ini bisa langsung didapatkan di situs resmi Bank Indonesia http://www.bi.go.id/en/moneter/bi-7day-RR/data/Contents/Default.aspx dimana nilainya untuk periode 15 Juni 2017 adalah 4.75%.

Ada beberapa pertimbangan untuk mengambil data ini, yang pertama kita bisa ambil data yang paling baru dengan alasan bahwa data itu paling menggambarkan kondisi saat ini. Yang kedua kita bisa ambil nilai rata-rata dengan argumen bahwa nilai rata-rata ini memperhitungkan fluktuasi. Yang ketiga kita bisa menggunakan weighted average sesuai dengan kriteria kita. Yang keempat, nanti di akhir perhitungan kita bisa buat rentang nilai cost of equity sesuai dengan perubahan data historis yang ada. Mau pakai yang mana pun yang penting itu logis dan kita bisa mempertahankan pemilihan keputusan yang kita buat (alias nggak dibantai sama dosen, klien, atau pak bos).

Berhubung ini contoh yang disederhanakan, saya ambil simpelnya saja, yaitu Rf= 4.75% yang nilainya sama dengan BI 7 day rate di bulan Juni 2017.

Market Return

Untuk Nilai Market Return, kita akan gunakan IHSG untuk periode 11 – 12 tahun terakhir mulai dari September 2005 hingga Mei 2017, dan data yang saya gunakan adalah data bulanan. Kenapa? nanti kapan-kapan dibahas.

Cara perhitungan untuk market return ini cukup sederhana, hanya perlu ambil data dari dari Yahoo Finance di https://finance.yahoo.com/quote/%5EJKSE/history/ lalu kita tentukan rentang periode dan frekuensi datanya kemudian pilih download data agar kemudian bisa kita olah. Untuk IHSG, kodenya JKSE sedangkan untuk XL Axiata kodenya adalah EXCL.JK.

Data Saham dari Yahoo Finance

Data yang kita ambil adalah data Adjustment Closed, dan yang akan kita hitung lebih lanjut adalah nilai returnnya. Dalam hal ini, yang kita hitung adalah besarnya return yang didapatkan investor jika menyimpan asset berupa IHSG per 1 bulan. Untuk itu, kita hitung dapat sebagai berikut:

Return IHSGPeriode n = (Harga IHSGPeriode n+1 – Harga IHSGPeriode n) ÷ Harga IHSGPeriode n

atau dengan kata lain adalah harga periode sekarang dikurangi harga periode sebelumnya dibagi dengan harga periode sebelumnya

Cara menghitung Return IHSG untuk Market Return (Rm)

Setelah menghitung return dari setiap periode, kita hitung rata – ratanya dengan menggunakan rata-rata geometric. Kenapa kita menggunakan rata – rata geometric? karena return yang didapatkan oleh investor dari suatu asset itu bukan kejadian yang independen, jadi jangan sampai salah kalau hitung return asset, kita sebaiknya gunakan rata – rata geometric, bukan rata – rata arithmetic biasa.

Tapi untuk menghitung rata – rata  geometric, nilai returnnya harus kita buat jadi positif, karena rumus geometric mean ini melibatkan akar, jadinya perlu dibuat positif dengan ditambah 1 sebagai berikut:

Menghitung geometric average jangan lupa +1

Setelah itu, kita bisa hitung dengan menggunakan formula dari spreadsheet yaitu =GEOMEAN(). Jangan lupa untuk dikurangi lagi dengan 1 karena diawal kita buat semua datanya jadi positif

Rumus Geomean untuk menghitung return market

Jadi monthly Market return (IHSG) dalam perhitungan kita adalah 1.220851921%. Setelah kita dapat monthly return (return bulnan), kita ubah itu jadi return tahunan. Caranya sebagai berikut:

Merubah rataan geometrik bulanan menjadi tahunan

Return Tahunan = (1+Return Bulanan)(jumlah bulan dalam 1 tahun) -1 = (1+Return Bulanan)12 -1 dan kita dapatkan nilainya sebesar Rm = 15.67509%.

Nilai β (Beta)

untuk menghitung nilai beta ini sebetulnya ada berbagai macam cara, tapi kali ini kita akan hitung dengan cara paling sederhananya saja yaitu menggunakan regression beta. Pada dasarnya Beta ( β) adalah gradien dari persamaan antara return asset dengan return market. Atau bagi teman-teman yang suka ngitung manual bisa pake rumus

Beta ( β) = Covariansi(return asset,return market) ÷ Variansi (return market)

Kalo cara paling mudahnya, kita tinggal gunakan fungsi =SLOPE(data_y,data_x) untuk mengetahui nilai betanya;

  • Data_y adalah return dari asset yang kita pilih; dalam contoh soal kali ini adalah return dari saham XL Axiata.
  • Data_x adalah market return yaitu return IHSG.

Menghitung Beta untuk CAPM dengan regresi di excel

Setelah itu kita bisa dapatkan nilai beta nya yaitu  β = 0.781277281

Setelah semua variable kita dapatkan, kita tinggalkan masukkan saja ke dalam rumus

Cost of Equity = Rf + β*(Rm – Rf) = 4.75% +  0.781277281* (15.67509% – 4.75%) = 13.28553%

Jadi, dengan asumsi dan poin data yang kita ambil, kita dapatkan bahwa cost of equity dari PT XL Axiata adalah 13.28553%.

Spreadsheet Excel untuk Perhitungan CAPM

Berikut ini adalah spreadsheet yang saya gunakan untuk menghitung

Update: Karena banyak yang nanya dan membandingkan prosedur perhitungan, Saya kasih cara alternatif untuk ngitung Beta  (β) & Return Market (Rm), silakan pake yang paling cocok… Hasilnya akan sama 🙂

ERROR: Disini terdapat google sheet responsive yang sudah di-embed. Kalau anda tidak dapat melihatnya, mohon update browser anda, atau langsung akses via direct link di bawah

 

atau langsung akses dan download di https://docs.google.com/spreadsheets/d/1b_Zg7Qcma-SNsojpdBx5sXOwBu_VHtCgTC-CN5HWadw/edit?usp=sharing

Disclaimer
Postingan blog ini hanya berfokus pada langkah-langkah perhitungan CAPM. Pada kenyataannya, ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan yang tidak saya bahas dan sebetulnya sangat mempengaruhi hasil akhirnya.

Sebagai bahan rujukan dan pembelajaran lebih lanjut, teman-teman bisa baca berbagai referensi misalnya dari Prof. Aswath Damodaran, buku – buku CFA & corporate finance. Semoga bermanfaat.

 

F.A.Q

(To be updated)

Comments

    1. Post
      Author
      Ganis Saras

      Tinggal ambil datanya aja di http://www.bi.go.id/en/moneter/bi-7day-RR/data/Contents/Default.aspx
      Untuk teknisnya bisa di buat rata-rata, atau ambil yang paling baru, atau dijadikan interval untuk kemudian masuk analisis sensitivitas. Semuanya nanti tergantung justifikasi & argumen kamu

      Btw, untuk pemilihan risk free rate saran saya sih ambil nilai obligasi pemerintah Indonesia dan ambil periodenya sesuai jangka waktu valuasi. Nilainya bisa dicek di IBPA – http://www.ibpa.co.id/DataPasarSuratUtang/HargadanYieldHarian/tabid/84/Default.aspx

      Mungkin nanti saya buat artikel khusus yang ngebahas detail tentang pemilihan risk free rate ya 🙂

  1. Safira Zakia

    pagi kak, saya mahasiswi yang sedang menempuh skripsi dan kebetulan salah satu variabel penelitian saya tentang cost of equity. terimakasih untuk artikelnya sangat membantu sekali, yang ingin saya tanyakan. apabila hasil dari cost of equity ini negatif, apakah tidak apa2? dan bagaimana solusinya? terimakasih 🙂

    1. Post
      Author
      Ganis Saras

      Secara umum sih ada rule of thumb berkenaan dengan nilai cost of equity, yaitu: nilai Cost of equity itu selalu lebih besar dari cost of debt karena hubungannya dengan seniority https://en.wikipedia.org/wiki/Seniority_(financial)

      Jadi, cost of equity itu mestinya positif.

      CAPM rumus nya = Rf + β*(Rm – Rf)

      Biasanya yang bikin negatif itu Rm < Rf atau nilai β nya yang negatif. Untuk masalah Rm < Rf dengan nilai β tetap positif, saran saya periode pengambilan data-nya aja yang disesuaikan Atau kalau mentok dan diizinkan sama dosen pembimbingnya mending ambil data sekunder dari Damodaran di http://pages.stern.nyu.edu/~adamodar/New_Home_Page/datacurrent.html
      Kalau ambil perusahaannya di Indonesia pilih yang Emerging Market… Sisanya tentang metode perhitungannya dari Prof Damodaran itu kamu bisa baca sendiri disana ya 🙂

  2. Aulia N R

    halo ka, terima kasih sekali postingnya sangat membantu pengerjaan tugas akhir. Saya mempunyai beberapa pertanyaan ka :

    1. Pada contoh kaka untuk menghitung beta disebutkan perusahaan yg dipakai adalah XL. Return XL yang digunakan itu berarti caranya begini bukan, (adj close period n+1 – adj close period n) / adj close period n ?

    2. Kalau mau menghitung risiko untuk perusahaan yang belum tbk itu gimana yah ka ? karena saya menghitung cost of equity utk perusahaan yang menggunakan sumber dana laba ditahan, sehingga saya tetap harus menghitung CAPM.

    mohon bantuannya yah kaa 🙂

    1. Post
      Author
      Ganis Saras

      1) Iya begitu caranya.
      2) Ngitungnya pake bottom-up beta; ambil beta industri, hitung unlevered beta terus re-levered balik sesuai debt to equity ratio perusahaannya

      1. Cilta

        maaf mau tanya, kenapa gak ambil yang close kenapa yang adj close?

        sama mba tau perhitungan bid-ask spread gak? kalo iya bisa tolong di share jugaa yaaaa

        1. Post
          Author
  3. rutmaida simanjuntak

    terimakasih artikelnya sangat membantu,

    tapi sebenarnya saya msh bingung capm itu fungsinya utk apa? menghitung expected return kah? tpi yg kita gunakan data masalalu?
    terimakasih, mohon bantuaanya ya 🙂

    1. Post
      Author
      Ganis Saras

      Iya, Terimakasih mbak 🙂

      Gampangnya, fungsi CAPM itu memodelkan dan “menstandarisasi” nilai required return yang wajar bagi investor. Ilustrasinya sesuai tabel di post ini yang mempertanyakan berapa Alex harus meminta nilai imbal balik jika mau berinvestasi. Nilainya harus diatas risk free-nya dia, karena pada dasarnya Alex terpapar risiko pasar berkaitan dengan industri warung retail; Jadi, kriteria wajar atau nggak-nya bisa dihitung dengan CAPM.

      Pertanyaan selanjutnya, seberapa besar dari risk free? Tentunya berbanding lurus dengan risiko yang dihadapi Alex… Makin tinggi risikonya makin besar nilai required return-nya bagi Alex. Nah di model CAPM, systematic risk yang nggak mungkin hilang itu dihitung sebagai nilai Beta sebagai bagian dari risk premium dan jadi penambah risk-free.

      Pakai data historis karena memang pendekatan pengukuran risk & return seperti itu, dan nilai beta sama dengan nilai gradien dari sebaran data return asset & return market.

      Saya pikir analoginya sama seperti calon karyawan yang diminta CV dan SKCK.
      1. CV sebagai list of skill & achievement-nya dia (analogi utk return market);
      2. SKCK sebagai historis attitudenya dia dalam konteks hukum (analogi utk Beta)

      Jadi pada akhirnya, perusahaan bisa memperkirakan kinerja calon karyawan tersebut dan menentukan apakah sesuai ekspektasi perusahaan; walaupun itu diambil dari data historis.

      Sebenarnya ketika menghitung nilai beta apalagi dengan regresi, memang nggak bijak juga kalau ngambil periode terlalu lama. Saya sepakat dengan apa yang mbak bilang, bahwa nilai yang ingin kita dapatkan itu sebetulnya nilai yang mampu mencerminkan kondisi saat ini & nanti. Makanya pada praktiknya, pendekatan perhitungan beta dilakukan dengan menggunakan bottom-up unlevered beta dalam lingkup industri; baru kemudian di-relever sesuai debt-to-equity ratio perusahaan.

      CMIIW

  4. arif

    mbak, mohon bantuan pencarian data untuk menentukan beta (β) kalau contoh diatas adalah XL Axiata, kalau dari perusahaan lain pencarian datanya bagaimana ya mbak?
    Terima kasih

    1. Post
      Author
      Ganis Saras

      Sama aja mas, yang ada di post ini udah prosedur umum & step by step nya buat ngitung regression beta… Tinggal ganti aja nama/kode perusahaannya. Cari di yahoo finance untuk ngambil data historisnya.

    1. Post
      Author
  5. rafael's

    Hallo mbak ganis mau nanya dong, apa sih kelebihan dari CAPM dibandingkan dengan INDEX MODEL?
    terima kasih

    1. Ganis Saras

      Wah, mohon maaf sebelumnya, ini saya nggak ngeh 😛
      Yang saya tau itu bahwa CAPM special case nya index model dan dikembangkan dari index model; dimana dasar yang dipake CAPM itu efficient market hypothesis. Diantara semua asumsi yang dipake CAPM itu salah satunya investor itu terdiversifikasi sempurna, jadinya di CAPM nggak ada alpha dan nilai betanya langsung dari market risk, udah bukan company specific risk. CMIIW 🙂

      Mungkin materi ini bisa ngebantu http://www.columbia.edu/~ks20/FE-Notes/4700-07-Notes-CAPM.pdf

  6. Jumadi

    Semangat Pagi Kak Saras.
    Semoga Kakak dalam keadaan sehat selalu.
    Perkenalkan Kak, saya seorang mahasiswa yang sedang menyusun tugas akhir perkuliahan (skripsi), yang mana salah satunya saya harus mencari kinerja reksa dana dan kinerja pasar (IHSG) dengan menggunakan beberapa metode pengukuran evaluasi yang sudah dikenal pada umumnya seperti Sharpe Ratio dan lainnya (dengan beberapa periode tahun penelitian, salah satunya yaitu 2016 dan 2017). Data yang saya gunakan yaitu data bulanan yang saya ambil dari beberapa sumber di internet. Namun dalam prosesnya, saya mengalami keraguan (apakah data yang saya gunakan kiranya benar atau tidak), sehingga muncul beberapa pertanyaan di benak saya yang ingin saya tanyakan kepada Kakak. Adapun pertanyaannya yaitu sebagai berikut:

    1. Dalam penelitian ini, terdapat penggunaan Risk Free Rate (Rf). Untuk mencari Risk Free Rate (Rf), saya menggunakan data BI Rate + BI 7-Day Repo Rate yang saya peroleh di situs http://www.bi.go.id. Di sana tersedia data BI Rate (hingga Juli 2016) dan data BI 7-Day Repo Rate (yang penggunaanya berlaku mulai tanggal 19 Agustus 2016). Pertanyaannya: apakah tidak apa-apa Kak, jika saya menggabungkan kedua suku bunga acuan tersebut (walaupun terdapat selisih nilai rate yang besar di antara keduanya) untuk menghitung nilai Risk Free Rate (Rf), mengingat periode tahun penelitian yang saya gunakan salah satunya ada 2016 dan 2017?

    2. Menyambung dari pertanyaan nomer 1. Jika dilihat pada situs BI, dikatakan bahwa “penggunaan BI 7-Day Repo Rate sebagai suku bunga acuan berlaku mulai tanggal 19 Agustus 2016, sebelum periode tersebut, suku bunga acuan menggunakan BI Rate”. Namun ketika saya mencari nilai BI 7 Day Repo Rate, saya juga menemukan nilai BI 7 Day Repo Rate ini untuk April 2016 (5,50%), Mei 2016 (5,50%), Juni 2016 (5,25%), dan Juli 2016 (5,25%). Bukankah BI 7 Day mulai berlakunya 19 Agustus 2016? Sedangkan untuk nilai BI Rate sendiri di bulan April 2016 (6,75%), Mei 2016 (6,75%), Juni 2016 (6,50%) dan Juli 2016 (6,50%). Dan setelah saya perhatikan, nilai BI Rate dan BI 7 Day Repo Rate pada April 2016 terdapat selisih sebesar 1,25% (6,75% – 5,50%). Begitu juga dengan selisih pada Mei 2016, Juni 2016 dan Juli 2016 nilai selisihnya “konstan” sebesar 1,25%. Apakah itu berarti untuk mencari nilai BI 7 Day Repo Rate agar setara dengan nilai BI Rate pada tahun 2017 (walaupun bunga acuan per 19 Agustus 2016 ke atas sudah menggunakan BI 7-Day Repo Rate), kita cukup dengan ”menambahkan (+)” 1,25% tiap bulannya pada BI 7 Day Repo Rate? Misal: Nilai BI 7-Day Repo Rate pada 16 Maret 2017 sebesar 4,75%. Karena supaya nilainya setara dengan nilai BI Rate (walaupun di situs BI tidak ada), maka cukup +1,25% sehingga menjadi 6%. Sehingga bisa digunakan untuk menghitung Risk Free Rate. Apakah bisa begitu Kak? Tapi jika bisa, saya tidak tahu nilai 1,25% itu nilai apa untuk alasan logisnya.

    3. Jika saya ingin menggunakan SBI sebagai alternatif di atas, tapi saya terkendala dengan tidak menemukan datanya untuk tahun 2017 Kak. Apa ada solusi Kak?

    Mungkin itu saja Kak pertanyaan saya. Sebelumnya mohon maaf sudah mengganggu waktu Kakak, dan terima kasih juga yang sebesar-besarnya untuk Kapak, karena sudah membaca pertanyaan yang panjang dan bertele-tele ini.
    Salam 🙂

    1. Ganis Saras

      1) Wah, saya malah nggak mudeng kenapa pakenya (Risk Free = BI rate + BI 7 Day)? Justifikasinya apa ya? Terus justifikasinya pakai BI Rate bukan pake obligasi kenapa ya? Kalo opini saya pribadi, selama justifikasinya kuat sih nggak masalah. edit: maaf salah ngertiin pertanyaan.. Mending ambil 1 nilai aja yang penting konsisten, kalau mau ambil BI Rate ya pakenya BI Rate terus… Kalau BI 7 day ya konsisten BI 7 Day terus.. Kalau obligasi ya konsisten YTM obligasi itu terus

      2)Iya, kurang lebih begitu… 1.25% selisih antara BI Rate dan BI 7 Day RR itu karena BI ngambil batas atas dan batas bawah dari Lending Facilities & Deposit Facilities.

      Cara Menentukan BI Rate dan BI 7 Day RR

      Detail resminya itu Bank Indonesia ngasih lampiran dokumen yang ngejelasin kerangka penentuan operasi moneter (BI 7Day RR & BI rate). Dokumennya ada di halaman https://www.bi.go.id/id/ruang-media/siaran-pers/Documents/Lampiran_RDG_Agustus_2016.pdf

      3) Kalo menurut saya balik ke respon saya nomor 1. Terus kalau udah fix maunya BI Rate ikutin aja kerangka operasi moneter untuk nentuin nilainya.

      CMIIW semoga bermanfaat🙂

      1. Jumadi

        Nah itu masalahnya Ka. Penelitian sayakan mengambil periode 2013-2017, karena ada salah satu metode yang mengharuskan menggunakan risk free, maka saya ingin menggunakan BI Rate saja. Tapi berhubung penggunaan efektif BI Rate yang hanya berlaku pada 19 Agustus 2016, maka untuk periode 19 Agustus 2016 ke atas saya ingin menggunakan BI 7 Day. Namun apakah bisa/diperbolehkan jika saya menggunakan dua indikator (BI Rate dan BI 7 Day)? Jika bisa, apakah saya harus menambahkan (+) 1,25 % pada BI 7 Day RR setiap bulan (sesuai periode penelitian yang dibutuhkan) untuk menyetarakan agar bisa senilai dengan nilai BI Rate?

        Oiya adapun kenapa memilih BI Rate sebagai justifikasinya karena pada umumnya BI Rate sering digunakan sebagai indikator dalam perhitungan risk free rate Ka, seperti penelitian-penelitian terdahulu pada jurnal yang saya baca. Selain BI Rate, ada juga yang menggunakan SBI. Namun, saya tidak mendapatkan data SBI untuk tahun 2017 Ka. Oleh karena itu saya menggunakan BI Rate (2013-Juli 2016) dan BI 7 Day (berhubung untuk 19 Agustus 2016 ke atas sudah menggantikan BI rate).

        Ka, kira-kira jika saya mengirim file berupa gambar ke Kaka bisa gak ya? Saya ingin minta koreksi hasil perhitungan risk free saya kira kira benar atau gak hehe.

        1. Ganis Saras

          Ya kalo begitu mending dikonversi aja sesuai kerangka operasional-nya BI.. Kalau mau pake BI Rate berarti data BI 7 day RR-nya tinggal ditambah 1.25%.. Tapi jangan lupa dikasi sumber & penjelasan ya kenapa +1.25%.

          P.S. Disclaimer : Masalah argumentasi & metode teknis lebih baik kamu pastiin lagi sama dosen pembimbingnya, jangan sama saya… Mau gimana-gimana juga tetep aja dosen yang punya otoritas, dan kamu dapet nilainya juga dari dosen, bukan dari saya.. Good luck skripsinya 😀

          1. Jumadi

            Oo gitu, berati fixlah bisa dikonversi +1,25%.
            Iya Ka, mungkin bisa kali ya penjelasannya seperti yang Kaka bilang “1.25% itu selisih antara BI Rate dan BI 7 Day RR itu karena BI ngambil batas atas dan batas bawah dari Lending Facilities & Deposit Facilities” + sumbernya dari dokumen yang ada di atas.

            Iya Ka pasti. Sekali lagi THANKS sangat Ka untuk pencerahannya. Maap udah banyak nanya wkkw
            Good Luck juga untuk Kakanya 😀

  7. Iin

    Selamat siang kak,
    maaf mau nanya kebetulan saya mahasiswi yang sedang nyusun skripsi dan menggunakan metode CAPM. saya mau nanya ka periode thn penelitian saya kan dari thn 2013-2016 untuk risk free acuan yang saya ambil pertahun (dari 2013) atau boleh langsung dari 2016 ya ka ? makasih

    1. Ganis Saras

      Kalau misalnya capm-nya mau dihitung tiap tahun ya berarti ambil variabel yang relevan untuk perhitungan tiap tahun. Kalau mau jadi 1 hasil/1 nilai capm, kita bisa ambil periode yang terbaru atau ambil rata-rata. Tapi ini debatable sih. Kalo dibalikin ke pengalaman pribadi:

      Ada yang suka ambil nilai rata-rata; argumennya itu lebih menggambarkan kondisi selama periode penelitian/pekerjaan..

      Ada juga yang ambil periode terbaru aja; argumennya data yang paling relevan itu adalah data yang paling menggambarkan kondisi saat ini (biasanya ini untuk valuasi).

      Perbedaan teknis seperti itu biasa terjadi, dan (sepengalaman saya lagi,) perbedaan seperti itu diatasi dengan sensitivity analysis.

  8. Marta Lolyta

    Kak, saya mahasiswa yang sednag menempuh skripsi dengan topik “ANALISIS CAPITAL ASSET PRICING MODEL (CAPM) TERHADAP KEPUTUSAN INVESTASI
    PADA PERUSAHAAN SEKTOR KEUANGAN DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2014 – 2017”
    Saya mau tanya, data yang digunakan dalam perhitungan untuk data perusahaan, apa menggunakan closing price atau adj. close? karena di kampus saya menggunakan closing price, tapi di sini menggunakan adj. close…
    Bisa dijelaskan, mana yang benar

    1. Ganis Saras

      Oh pertanyaan ini saya sudah pernah jawab di comment lain sebelum-sebelumnya..
      Intinya adjusted close itu adalah closing price yang disesuaikan setelah stock split & pembagian dividen. Jadi kalo nggak ada dividend atau stock split, maka closing price = adjusted close price.

      Berhubung yang kita hitung nanti adalah return yang didapatkan, kita pasti harus menyesuaikan sama corporate action-nya. Misal: Saham A beli di $5 dan nggak ada kenaikan di waktu penutupan.. Jadi beli saham A seharga $5 & tutup di $5… Tapi pada hari itu saham A bagi-bagi dividen sebesar $1… Nah kalo kita cuman pake closing price, keuntungan investor yang sebesar $1 dari dividen kan nggak keliatan, makanya kita perlu itung ulang dengan mempertimbangkan dividen tersebut… Sama halnya ketika ada stock split… Nah, biar nggak repot ngitung-ngitung ulang, saya lebih seneng ambil yang adjusted close price.

      Oh iya, berhubung datanya diambil dari yahoo finance, mekanisme tentang adjusted close bisa di cek di https://help.yahoo.com/kb/finance-for-desktop/adjusted-close-sln28256.html

  9. christian

    trims kak ganis, ingin tanya krn baik bi rate dan 7days RR itu merupakan kebijakan moneter maka harusnya ga perlu dikonversi dong ya?

    terima kasih

    1. Ganis Saras

      Iya, sebenernya karena kebijakan moneter makanya saya lebih seneng pake YTM obligasi pemerintah sebagai risk free rate… Nanti postingan tentang CAPM ini bakal saya revisi lengkap dengan argumen-argumennya supaya lebih mencerminkan best practice-nya.

      Itu di comment sebelumnya memang saya ngomongin masalah konversi BI Rate ke 7 day RR karena kebutuhan khusus dari mas Jumadi… Beliau maunya ngambil risk free rate dari nilai rata-rata BI Rate periode 2013-2017…
      Tapi kendalanya, BI Rate hanya di publish sampai Agustus 2016, sisanya digantikan oleh 7 day RR.

  10. Adi

    kak, kalau misalnya periode penelitian saya 2013-2017, yang saya tanyakan apakah untuk pengambilan data return IHSG dan return perusahaan itu harus mulai dari tanggal 1 januari 2013-31 desember 2017? atau sampai mei 2018? karena untuk rf BI 7days saya ambil untuk periode mei 2018… dan ketika saya hanya ingin mengetahui cost of equity untuk periode 2017 apakah kita hanya menghitung 2017 saja atau dari 2013-2017? Terimakasih sebelumnya

    1. Ganis Saras

      Imho, kalau mau hitung nilai cost of equity per periode saya pikir ngambil datanya juga perlu disesuaikan. Misalnya mau hitung periode 2013 saja, berarti butuh data historis paling tidak 2008-2013… Kalau mau hitung periode 2014, berarti ambil data historisnya 2009-2014 dst…

      CMIIW

  11. Van

    Sore kak. saya salah satu mahasiswi yang lagi mengerjakan skripsi baru mulai olah data. lagi cari data tentang menghitung COE capital. trs bingung di cari return market (IHSG) kalau disini kan dapatnya satu angka dgn label return per bulan. kalau misalnya aku harus hitung tiap tahun dan dalam jangka 14 hari tertentu di 4 tahun itu gimana ya? apa disamain aja nilai Rm-nya? pertanyaan kedua kalau ambil Rf pakai nilai lelang rate SBI gimana? Makasih sebelumnya

    1. Ganis Saras

      Tinggal disesuaikan aja sama datanya. Intinya ngebolak-balik rumus geometric mean aja kok.

      Kalo pake data bulanan:
      Return Dwi Mingguan= (1+ Return per bulan)(1/jumlah dwi minggu dalam satu bulan) -1 = (1+ return per bulan)(1/2)-1

      Kalo pake data mingguan:
      Return Dwi Mingguan= (1+ Return per minggu)(jumlah minggu dalam dwi minggu) -1 = (1+Return per minggu)2-1

      Kalo pake data harian:
      Return Dwi Mingguan= (1+ return harian)(jumlah hari dalam dwi minggu) -1 = (1+Return per hari)14 -1

      Oh iya, inget-inget aja yang Rm yang diitung sama dengan CAGR.

      edit:
      Takutnya saya salah nangkep pertanyaan 😛

      Kalo ngomongin konversi return ke biweekly respon saya sesuai dengan yang diatas.

      Tapi kalo untuk ngitung return per periode ya tinggal diitung aja sesuai prosedur… Untuk contohnya udah saya kerjain di google sheet, bisa di akses di https://docs.google.com/spreadsheets/d/1b_Zg7Qcma-SNsojpdBx5sXOwBu_VHtCgTC-CN5HWadw/edit#gid=541394438

      Pada contoh diatas saya masih menggunakan data return per bulan. Kalo misalnya kepake, disesuaikan lagi aja dengan data yang kamu punya.

      Kalau mau download tinggal download aja ya nggak usah request access.. Tinggal pilih File>> Download as >>Microsoft Excel

      Untuk risk free rate saya berpendapat itu dikembalikan kepada perspektif investornya, atau judgement kita terhadap investor yang bersangkutan. Jadi kalo menurut investor risk free rate-nya ada di hasil lelang SBI yah oke-oke aja. Tapi kalo misalnya investor bilang “Saya nggak punya akses ke lelang SBI” atau “Dana saya dibatasin pemerintah untuk bisa masuk ke SBI” ya berarti disesuaikan lagi, misalnya jadi menggunakan YTM Obligasi pemerintah Indonesia dengan waktu sesuai rencana periode investasinya. Misalnya, kalo kita berencana investasi untuk 10 tahun, ya berarti ambil YTM obligasi yang 10 tahun, dst..

      CMIIW 🙂

Leave a Reply